Kenangan dari Masa Lalu

13 04 2010

Oleh : Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad Al-Qudhaibi ( Mantan Ulama Syi’ah )

Aku tumbuh di sebuah keluarga penganut Syi’ah yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berkhidmat kepada madzhab Syi’ah, melalui dua ranah : ilmiah dan spiritual. Ayahku wafat saat aku masih kecil, aku dan saudari-saudariku diasuh oleh paman, saudara ibuku. Ia seorang syaikh yang cukup terkenal. Pamanku mempelajari agama di salah satu hauzah ‘ilmiyah di daerah jad hafsh, Bahrain. Lalu ia melanjutkan studi agamanya di Qum, kota yang menghimpun hauzah ilmiah terkenal di Iran.

Paman begitu ketat menjaga kita semua, dia sangat menjaga agar kita tidak bergaul dengan teman-teman berperangai buruk, jangan sampai terseret hal-hal yang dapat merusak citra dan akhlak, sehingga mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Begitu ketatnya, hingga ketika beliau mengetahui rencanaku masuk ke akademi musik dan berharap kelak menjadi guru musik, amarahnya meledak dan menolak rencanaku.

Menurut beliau, “aku tidak menemukan seseorang yang dapat menasehatiku ketika aku kecil dan merawat diriku. Aku menjalani kehidupan yang sangat sulit. Maka dengarkanlah nasihatku”. Dapat kukatakan, paman berperan besar dalam mengubah rencanaku untuk menekuni musik, selain beberapa penghalang lainnya.

Sementara ibuku begitu bersemangat untuk senantiasa berpartisipasi dalam acara-acara sosial keagamaan, dukacita maupun sukacita.Dari hal-hal tersebut, ibu mengharapkan pahala dan balasan baik. Dapat digambarkan bahwa ibu tak ubahnya pelayan bagi imam Husain.Bahkan sakit tak menghalangi ibu untuk tidak berpartisipasi dalam acara-acara tersebut. Beliau meyakini bahwa jika tidak berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan merupakan sebuah kemaksiatan. Sedangkan berpartisipasi dalam acara-acara tersebut merupakan obat bagi penyakitnya sekaligus keberkahan tersendiri.

Sementara kakekku ( ayah dari ibuku ) semasa hidupnya adalah seorang pembuat rebana tradisional yang digunakan untuk mengatur langkah-langkah gerak dalam tathbir ( upacara melukai diri pada hari Asyura ) dalam mawakib al-Husainiyah. Saat itu aku merupakan pengikut sayyid Abu al-Qasim al-Khui, salah satu ulama terkenal di hauzah ilmiah di Najaf yang menjadi rujukan keagamaan kaum Syi’ah.

Tersebab aku adalah produk dari lingkungan yang loyal secara keagamaan, maka sejak kecil aku sangat senang untuk menghadiri ma’tam ( Forum tangisan untuk mengenang tragedi kematian Husain ) yang diselenggarakan Haji Abbas di distrik al-Hammam, Manama, ibukota Bahrain. Sejak kecil aku berangkat pagi-pagi menuju ma’tam tersebut setiap kali ada acara, sebagai orang yang bertanggung jawab mengambil bendera yang biasa dibawa dalam acara mawakib al-Husainiyah, sebelum orang lain mendahuluiku.

Saat beranjak dewasa, aku turut serta dalam acara para tetua majelis ( untuk memperingati tragedi imam al-Husain ) dengan memukul-mukulkan rantai ke punggung. Di sekolah, bersama teman-teman, aku selalu berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan. Bagi kami saat itu, acara-acara keagamaan tak ubahnya seperti masa istirahat dari lingkungan belajar. Kami begitu sering absen dari sekolah untuk menghadiri acara-acara keagamaan. Apalagi kebanyakan tenaga pengajar di sekolahku berasal dari kaum Syi’ah, kami tidak dikategorikan membolos, bahkan mendapat dukungan mereka.

Sangat disayangkan, begitu banyak pemuda yang berbahagia dengan tibanya acara-acara keagamaan. Mereka berpikir, dalam acara-acara keagamaan terdapat kesempatan emas untuk menggoda para remaja putri, akibat adanya kesempatan untuk berbaur dalam acara-acara tersebut. La haula wala quwwata illa billah.

Keluargaku memiliki perhatian tinggi terhadap acara-acara peringatan. Bahkan bibiku ( saudari kandung ayahku ) sering keguguran karena mengikuti acara-acara peringatan tersebut. Baik itu janinnya mati sebelum lahir, maupun bayinya mati langsung setelah dilahirkan. Hal itu terjadi terulang-ulang, sehingga keluargaku putus asa.

Keluargaku bernadzar kepada Imam Ali, jika beliau menganugerahi bibi seorang bayi dan menjaganya dari hal-hal yang tidak disukai, maka mereka akan membawa bayi tersebut setiap pagi di hari Asyura, pada setiap tahun, bergabung dengan arak-arakan ma’tam. Bayi itu akan mengenakan kain kafan putih dan darah hasil proses ma’tam para partisipan akan di tempelkan ke kain kafan tersebut. Kemudian keluargaku akan mendudukkannya diatas seekor kuda yang serupa dengan kuda as-syahid al-Husain.

Lalu lahir dari rahim bibiku seorang anak laki-laki yang dinamai ayahnya Uqail. Kemudian, selama bertahun-tahun setelah nadzarnya direalisasikan, ayahnya menyadari bahwa sesungguhnya bernadzar itu hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia menyadari bahwa Imam Ali adalah manusia biasa, tidak dapat dijadikan objek bernadzar. Begitu juga manusia lainnya, tidak bisa dijadikan objek ibadah, tidak dengan berdoa, meminta pertolongan maupun nadzar. Ayahnya meyakini keharaman nadzar seperti ini, sehingga persoalan ini kemudian dijadikan bahan kelakar bersama para sahabatnya.

Aku pun memiliki kisah yang tidak kalah lucunya dengan kisah Uqail tadi. Yaitu ketika aku masih kecil, aku diharuskan menjalani operasi bedah di leherku. Tak lama kemudian, setelah beberapa hari luka itu menganga. Aku pun menjalani operasi bedah untuk kedua kalinya. Ibuku berkata : “kondisi kesehatanmu sangat buruk, kondisi antara hidup dan mati”. Karena begitu cemas dan lugu, dia mengikuti nasihat seorang mullah ( para pemuka Syi’ah ) agar ibuku pergi ke salah satu tempat ziarah ( yang dianggap keramat ) yang terdapat di Manama, di kawasan As-satiyyah. Lalu dia bernadzar untukku kepada Imam Ali, apakah dia bakal menyembuhkan penyakitku.

Seperti kebanyakan kaum Syi’ah, ibu meyakini bahwa ambang-ambang pintu, kuburan, dan penghuni kuburan dapat mendatangkan kebaikan dan mengangkat kemudharatan. Karena berbagai kondisi yang terjadi di luar kehendaknya, selama bertahun-tahun lamanya ibu tidak dapat melangsungkan apa-apa yang dia ucapkan saat bernadzar, hingga aku dewasa.

Ketika aku berubah keyakinan mengikuti akidah Ahlussunnah wal Jama’ah melalui hidayah dari Allah Ta’ala, dan semua mengetahuinya, keluargaku hendak memberi bukti bahwa peralihan diriku kepada madzhab Ahlussunnah mengandung kejahatan dan kezhaliman terhadap Ahlul Bait.

Mereka mengingatkanku tentang nadzar ibuku. Dengan tegas mereka berkata kepadaku : “jika bukan karena Ahlul Bait, maka kamu tak akan sembuh dari penyakitmu. Dan kamu tidak akan hidup sampai hari ini”. Mereka pun memperingatkanku untuk tidak meremehkan persoalan nadzar. Mereka menganjurkanku untuk pergi bersamanya ziarah ke tempat keramat untuk bernadzar. Hal itu agar aku tidak terkena hal-hal yang tidak di inginkan atau di terpa berbagai kesulitan hidup.

Upaya mereka berlangsung terus menerus dan berulang-ulang. Mereka mencoba meyakinkanku untuk pergi bersamanya ke tempat ziarah. Mereka juga berupaya meyakinkanku untuk tasyayyu’ ( kembali ke dalam madzhabb Syi’ah ), tapi usaha mereka tidak pernah berhasil.

Anehnya, setelah bertahun-tahun mencoba mengagungkan tempat ziarah dan memohon bantuan kepada penghuni tempat keramat tersebut, serta bernadzar kepadanya, terungkap kemudian bahwa ternyata semua yang dilakukan di sekeliling tempat tersebut hanyalah angan-angan dan khayalan semata. Di kemudian hari, tempat ziarah keramat tersebut kemudian dihancurkan secara total. Alhamdulillah.

Disalin dari buku : “akhirnya kutinggalkan Syi’ah”, karya : Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad Al-Qudhaibi.


Actions

Information

2 responses

16 04 2010
junedi

qta tuntaskan kesesatan ajaran syiah…ok!

12 06 2010
abu 'ubaidillah

na’am, mari bersemangat membasmi kaum syi’ah yang merupakan ajaran sesat lagi menyesatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: